Menyikapi Gelombang Kehidupan

Samudra Biru - Kita menyadari bahwa kehidupan manusia adalah kehidupan yang jatuh bangun. Sang pencipta tidak selalu menjanjikan langit yang senantiasa biru, namun satu hal yang pasti setelah hujan reda akan nampak pelangi. 

Bukan perkara kita gagal atau menghadapi problematika kehidupan, namun yang terpenting bagaimana kita bangkit dalam menghadapi kegagalan tersebut. Dan memulai pembaharuan agar hal yang telah pernah kita alami tidak terulang kembali.

Kita manusia diberi akal, hati nurani yang sempurna dibanding ciptaan Tuhan yang lainnya. Sudah semestinya mempergunakan kesempurnaan itu untuk bangkit dari setiap kegagalan hidup, bahkan dari peristiwa yang begitu menekan sekalipun.

Tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dihadapi, tidak ada langkah yang panjang untuk dijalani dan tidak ada orang yang sulit dihadapi ketika kita mampu menyikapi setiap peristiwa dengan kepala jernih dan dingin.

Seorang filsuf pernah bertutur "kita tidak akan pernah bisa mengukur betapa tingginya gunung, hingga kita sudah berada dipuncaknya dana mengatakan bahwa tinggi gunung itu tidak seberapa". artinya, jangan pernah menyerah sebelum mencoba. 

Kekuatan terbesar untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan adalah saat kita berani untuk memulainya. Bukankah seribu langkah kedepan dimulai dari langkah pertama?

Ketika kita menghadapi sebuah peristiwa yang begitu menekan, percayalah hal tersebut tidak akan melebihi kekuatan kita sebagai manusia yang notabene dicipta sebagai ciptaan yang paling sempurna diantara seluruh ciptan-Nya.

Mari membuka jalinan silaturahim dengan orang lain untuk membagi pengalaman (sharing). Dalam percakapan yang berbagi tersebut, setidaknya akan mengurangi beban mental dan memungkinkan menemukan solusi untuk bangkit. Dan yang tak kalah pentingnya adalah membaca buku-buku (positif) tentang kehidupan, terutama Kitab Suci sesuai dengan keyakinan masing-masing, karena disinilah sumber kekuatan kita untuk memaknai setiap peristiwa yang terjadi.

Akhir kata "orang tidak dapat menemukan lautan biru kecuali ia memiliki keberanian untuk tidak melihat pantai".

Salam.




Berkelamin Ganda, Model Cantik Didepak dari Kontes

Samudra Biru - Seorang model cantik terpaksa harus menerima kenyataan didepak dari kontes model di Polandia setelah mengaku di depan juri jika dirinya berkelamin ganda. Demikian diberitakan The Sun, pekan ini.
Si cantik Michalina Manios (22) membuat juri di kontes Polandia Next Top Model kaget setelah ia mengaku sebelumnya dikira pria sampai kemudian melakukan operasi plastik empat tahun silam untuk memotong organ kelamin pria darinya. Setelah itu ia kemudian memilih hidup sebagai perempuan.
Ia menjadi kontestan paling populer di televisi setempat usai melakukan pengakuan di depan panel juri tentang rahasianya pada September silam.
"Saya terlahir sebagai hermaphrodite(berkelamin ganda), dan saat dokter melihat saya mereka mengasumsikan saya pria karena memiliki organ kelamin pria," katanya.
"Namun, saat saya tumbuh besar, saya lebih cenderung lebih feminin ketimbang jadi pria sehingga empat tahun silam saya memutuskan memotong organ kelamin saya dan mengganti nama," tambahnya. Sayangnya, setelah pengakuan itu, para penonton tidak menerima kenyataan dan memutuskan melakukan voting dan mendepak Manios dari kontes bergengsi itu.
"Penampilannya luar biasa dan sangat sukses serta memberikan pelajaran kepada negeri ini," kata satu di antara anggota panel juri, Marcin Tyszka. Sementara Manios mengatakan dirinya bersyukur bisa mengikuti kontes ini.
"Ini sebuah pengalaman yang sungguh luar biasa dan siapa yang tahu apa yang terjadi pada besok. Kita akan lihat," katanya.
Sumber. TribunNews.com

Adik Lahirkan Anak Sang Kakak

Samudra Biru - Barangkali akan terdengar aneh ditelinga kita tapi ini adalah kisah nyata. Adik lahirkan Anak sang kakak yang berarti anak yang dilahirkan adalah ponakannya sendiri. Terlepas dari agama sekarang kita  bicara dari sudut pandang Ilmu Pengetahuan.

Semakin canggihnya dunia medis memungkinkan seseorang dapat memiliki keturunan ketika seseorang divonis tidak akan bisa memenuhi kewajiban sebagaimana seorang istri. Seperti yang terjadi pada wanita berikut.

Setelah dipastikan hidup tanpa rahim, akhirnya Cheryl Keye (36) dapat menjadi seorang ibu, berkat kebaikan sang adik, Lyndsay Wootton (32) yang tanpa pamrih bersedia menjadi rahim pengganti bagi Elliot, putra pertama Cheryl.

Sejak umur 17 tahun, dokter menyatakan bahwa rahim Cheryl berada di tingkat pertama Mullerian Agenesis, sehingga membuatnya tidak dapat membentuk janin dengan sempurna.

Cheryl menikah dengan Jason Keye yang mau menerima kondisinya pada usia 22 tahun. Cheryl mengaku sangat menikmati hari-hari menjadi istri.

"Suami saya menerima saya apa adanya. Kami mengisi kehidupan tanpa anak dengan membeli sebuah rumah yang cantik, mengejar karir kami dan bepergian ke tempat-tempat yang eksotis," ujar Cheryl.

"Namun, saya pun sadar adanya kekosongan tanpa adanya bayi," lanjutnya seperti dilansir Dailymail, Senin (23/5/2011).

Akhirnya, Cheryl yang berprofesi sebagai manajer pengembangan bisnis pun fokus berusaha agar dapat memiliki keturunan. Ia mempelajari penelitian sebuah proses rahim pengganti.

Ketika mempelajari proses tersebut, ia pun memperbincangkan hal tersebut kepada adiknya Lyndsay yang sudah memiliki seorang putri berusia enam tahun.

Dengan senang hati Lyndsay mengiyakan keinginan Cheryl menjadi rahim pengganti bagi janin Cheryl.

"Tentu saya dengan amat senang mendengar adanya proses tersebut dan dengan senang hati bersedia melakukannya untuk kakak saya," ujar Lyndsay.

"Dapat melahirkan keponakan saya adalah hal yang luar biasa di hidup saya," imbuh Lyndsay.

sumber pelengkap: okezone

 
Cheap Web Hosting