Gairahku Menghilang

sejam, dua jam, tiga jam, hingga berjamjam bahkan berharihari, terkadang tidak juga meruap sebuah ide hanya untuk sekedar memenuhi sebuah permintaan atau menambahi catatan yang sudah tertera. lima puisi satu cerita. ya seorang sahabat baik dari ibu kota memesannya. ah, benarbenar sedang tidak ada kata kalimat yang melambai kawan. lagi pula aku bukanlah seorang pengarang juga pujangga bukan?. tapi  mengapa insan sebaik dan sekelas dirimu datangnya padaku? ah entahlah hanya engkau yang tahu. ya, meski seringkali mendapat kepercayaan beberapa kawan untuk turut mambantu melengkapi sudut-sudut lembaran hangat mereka. bisa jadi kerna mereka sayang sama aku, atau kasihan saja denganku heee.. ah, ya kawan apalah aku ini. 

seperti sore ini selepas ashar bersama aroma wangi kopi hitam bali menemani, juga sebungkus rokok yang tinggal setengah lagi. entah, gairahku seperti sedang melalang ke alam bayang, mengalami ejakulasi kata setiap hendak mengeja. aku tahu engkau sangat gelisah menunggu kelahirannya, tak kalah cemasnya denganku. o, bagaimana jika tiba-tiba mengalami impotensi? mampuslah aku. sudah pasti harus terapi ke sana kemari, menelan berbagai obat dari jenis segala bahasa yang ada, dari kimiawi hingga tanaman tak bernama di kamus biologi, yang terkadang pahitnya melampaui daun butrowali. hehe

ah, engkau tahu? sementara keinginanku mengebu ingin melahirkan banyak anak-anak kata yang ceria dan  bermakna. kelak engkau turut menikmatinya meski tidak ada di toko juga lapak-lapak kaki lima di kotamu.  setidaknya di benak juga hati yang membaca. hai! boleh bukan? aku berharap demikian? hahahaha ... aku tahu engkau tersenyum, yang entah apa artinya. kerna aku tak ahli membaca senyum, yang aku tahu hanya senyum Ibuku almarhum. yang begitu tulus  dan penuh kelembutan memaafkanku ketika mendapati beberapa lebam dan codet bekas kuku di wajahku saat masa kecilku dulu, aku bukannya tak sportif justru mereka yang tak sportif. ya mereka kawan, mereka terus saja mengoceh seperti burung kehilangan sarang. setelah selesai dari permainan bola sepak kala itu, sementara engkau tahu kupingku ini sangat sensitif mendengar sesuatu yang sudah berlalu, aku tantang mereka di tengah lapang agar berhenti dan tenang. engkau tahu? badan mereka dua kali lebih berat tinimbang aku. engkau pasti berfikir aku mengarang? tidak, jika engkau bertemu denganku lagi aku tunjukkan codet di pipi kananku. apa hanya sekali itu? seringkali, hingga  gemas Ibuku memberi nasehat. sudah ah, itu kan masa kecilku, tak penting! sekarang sudah berbeda jika dulu berkelahi sekarang bertarung. hahahaha .......

mmm ... dan aku berharap malam ini dapat bersenggama dengan abjad dan bait yang memikat. aku sudah siapkan seperangkat gamelan sederhana juga ube rampe pemikat sebagai syarat agar mereka bertandang dengan gairah yang hangat. semoga.

salam.

27 November 2010
amlapura-bali

foto: rosamund kwan


Komentar :

ada 2 Komentar ke “Gairahku Menghilang”
Rudy Prayala said...
pada hari 

siap ..
salam terus berkarya maas ..

antoHprastyo said...
pada hari 

Rudy Prayala ... Ayooooooooooo! samasama

"MEMBACALAH MAKA KAU TAHU, MENULISLAH MAKA KAU ADA"

Post a Comment

Sahabat terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, semoga bisa memperkuat tali persahabatan online/offline kita. Blog ini Adalah Waqaf onlineku untuk semua, mohon jikalau ada yang tidak benar diluruskan, bagiku menjadi blogger adalah panggilan jiwa untuk membuka ruang bagi saujana. Hidup untuk memberi; Berilmu Amaliyah, Beramal Ilahiyah, Memberi Merupakan Puncak Kebahagiaan. Semoga manfaat. Salam

 
Cheap Web Hosting