Kumpulan Puisi - Puisi I

perempuan berstempel

mengulang-ulang sejarah
senyum mengembang menarik para kumbang
kumbang marah mengoyak tangkaimu yang rapuh

tubuhmu berstempel
membalut rekat gesturmu
dengan manikmanik palsu menancap pori
: buka saja mahkota yang engkau lindungi agar tak menyakiti para Utusan

tak menyadari cerminmu retak
kerna tak pernah engkau sentuh
teronggok di fana duniamu yang gaduh!
: membuai mata perindu lelaki perlente hamburkan nafsu

sungguh dirimu sulit dibuat tenang
selalu bergoyanggoyang meliukkan tubuh,
sekalipun kitab suci di atas kepala

bagaimana lagi?
 
baru saja aku jejakkan kakiku yang lelah di kota sunyiku
jemarimu yang telah aku basuh air kerinduan yang dalam,
menampar tanpa salam.

bukankah sudah kubunuh malam kelam untukmu?
bukankah sudah kuhunus pisau Bismillahku?
bukankah sudah kuseduh hangat Hati ini?
tanpa perlu memandang langit, kerna ku percaya

diantara dindingdinding sekat yang berbisik itu?
aku mengiris, mengoyak, menyobek, membelah langit malam-malammu yang sepi!
yang telah menguras tangis sedihmu
di sepanjang siang dan malammalammu

kututup wajahmu yang sayu
dengan tatap penuh harap
kita meramu gelegak rindu
melukis tentang keadaan

tentang engkau dan aku yang kadang terpaku
memandang potret kehidupan yang mengurung pikir
ketahuilah hidup ini kekasih? akumulasi gerak pilihan Hati
dari titik hingga ke titik berbedabeda arti
: kerna kita hidup!

kontruksi cintaku sedang kubangun peradaban baru
kokoh, tidak rapuh
merengkuh kerna teduh.
ku bangun kembali kerinduan ini dengan peluh
berharap kita menyentuh tuai pada waktunya
ada doa dalam tiap hembusan nafas
tentang peta kita
diantara langkah yang lelah
: menempuh kayuh berirama hendaknya.

bagaimana lagi?
selain terus berjalan.

atawa berhenti?
engkau kembali mengerami sepi
hanya berkawan linangan, basahi matamu yang menghitam
menunggu Sang Kekasih-MU datang,
menagih janji?

lelaki tak berstempel
 
lelaki berkelahi sesama lelaki
jika menemu lelaki berseteru tangan dengan wanita!
dia lelaki;
tak berstempel Sejati


 

prasasti cinta


mencipta prasasti cinta di atas lembaran
mengeja satu dua kata di jeda senja
membungkus dengan doa malam
: di jemur di bawah rembulan


aku
 
saat aku terdiam
bukan sembunyikan kata cinta tentangmu

saat aku tenang
bukan diselimuti rasa kalut tentang hidup

saat aku merenung
bukan dilanda bingung tentang maut

aku adalah aku;
dengan segala dayaku, ku percayai
ku pertanggungjawabkan!

bermain peta masa depan di bentang masa
bersahabat sengat sinar matahari
pun temaram cahaya bulan di sepertiga malam
: melukis laku ku juga kamu

kritik

nama yang belagu;
aku cium engkau,
sebelum ku tendang keluar dari pintu.

embun pagi

ada embun kesiangan
terperangkap,
pada malam pertama
: pengantin baru

ibu
 
aku rindu ...
ibu aku dendangkan lagu-lagu
di atas sajadah yang engkau tinggal
ku tengadah

pejalan sunyi

aku pejalan sunyi
di tanda alam mencari arti
mengurai tiap denting
di sudut sudut malam

aku pejalan sunyi
melalui kata kalimat
memotret lekuk hidup
lewat kamera mata hati

aku pejalan sunyi
melangkah di gemerlap dunia
yang kian mengurung relung
tentang keadaan dan keberadaan

aku pejalan sunyi
menyulam angan di malam
diantara rimbun dunia
menghampar melendang





penyerupa

pada penyatuan dua hati, ada asma Tuhan
Dia menjadi pengingat, jika di sepanjang jalan yang dilewati
menemu onak
bersembunyi di rimbun semak

wahai penyerupa dunia
permainan topengmu?
cukup sudah!

mengoyak jalinan damai
yang terpeta sekian masa di hati
jangan kau bajak janji janji Illahi
yang terucap di atas kitab suci

aku mengingatkan!
lakumu yang kian meninggi
melawan tautan hati insani
saksi langit bumi

pena biruku bernyawa di ujungnya
gelegak tintanya hendak meruap,
jika engkau tebarkan rasa risau
katakata penaku menggores
tamat!

candi kata

aku persembahkan candi kata-kataku
setelahnya, bermainlah dengan diamdiam
cukup engkau, aku, Tuhan yang tahu

malam semu 

Ibu aku menemu malam semu
tapi aku akan tetap kirimkan doa
sebagaimana malam malam yang telah lalu

tembang malam 

berirama
mengalun tenang,
nyayian tembang siang ke senja

meredup
runduk

menemaram
leram

berdzikir
di malam

senyummu
 
meramu, tiap kenangan bersamamu
sewarna, merupa pelangi pelangi
setelah hujan senja terhenti
siluetnya melukis,
senyummu

puisi sederhana pengisi jeda

hanyalah puisi yang tiarap di meja
berhari hari tak kusentuh hingga berdebu
merayap kata satusatu ku eja aksara demi aksara
meluapkan rasa yang kian mengurung tiap harinya

hanyalah puisi yang tak berarti
melalui goresan tinta yang telah habis di telan masa
terbaca dengan mengeryitkan dahi, di tiap larik kata kalimat
kerna sejatinya aku juga tidak mengerti apa yang aku lukis?

hanyalah puisi yang terlahir dari rahim
meruap begitu saja tanpa permisi di benak dan otak
mengajak berdansa menari di setiap paragraf-paragraf
mengisi harihari yang kadang datang penat yang sangat

ya! hanyalah puisi yang mengisi di tiap hari

engkau tahu kawan?
serupa larikan ini

engkau hadir tawarkan dahaga
saat lelah terbang mengelana
tanpa tujuan

hinggap di pucukpucuk cendawan
pun bungabunga mawar berduri
hitam terbakar matahari

engkau suguhkan tarian erotis
di setiap penghujung lelapku
hingga pagi berseru

mengajak terbang ke langit biru
camarpun cemburu kepakanmu
yang cantik itu


mengupas buah di sepertiga malam 


di sepertiga malam
saat keheningan
ditawarkan

ku ambil pisau di lipatan hati
ku kupas buah yang tumbuh,
di sepanjang hari

buah ranum, buah matang, buah busuk!
pisau tajamku meliuk
mencari bentuk

membelah
menyayat
menusuk
mengiris

aroma anyir pun meruap
di tengah kesunyian

tanpa dentingan
pun jerit kepedihan

hanya hening bening
luruh menghamba
berserah diri

di segala nista, jelaga daki
yang mengurat lekat
di kehidupan fana


kumbang

hanya puisi kecil yang aku tulis sembari nikmati kopi hangat
di tepi jendela, memandang kumbang yang sedang kebingungan
kembang di taman menghilang, sejak tangantangan angkuh memetik
untuk persembahan dewa dewa, terlihat hanya mengitari pucuk tanpa kelopak

entah sampai kapan, berhenti meraung si kumbang jantan yang malang
apa yang dapat aku perbuat, selain mengabadikan kesedihannya saja
menjadi susunan tata kata kalimat biasa yang meruap di kepala
hingga terbaca dan menikmati kegalauannya yang sangat

ah, kumbang?



ditulis maret, 2010



plin-plan

benakmu melompat serong kanan serong kiri. ketakutan akan jalan yang engkau lukis sendiri. sementara rambu sepanjang jalan yang engkau tempuh penuh gambar erangan nikmat di sana juga di sini.

adakah engkau sadar? mempermainkan Hati? menambah deretan panjang kegelisahan juga kesepian yang tiada berakhir hingga Tamatmu pada Dunia. engkau gambar hidup pajangan di para Lelaki berkantong tebal dan belang. membayarmu untuk dapat memenuhi gaya hidupmu yang nampak sederhana namun Bergoyang goyang di tiup angin malam!













Cintaku seujung kuku 


Jangan cintai seseorang setinggi langit, karena langit bisa runtuh
Jangan cintai seseorang sedalam lautan, karena lautan bisa surut
Jangan cintai seseorang sebesar dunia, karena dunia bisa hancur
Tapi, cukup cintai seseorang seujung kuku,
meskipun kecil dan engkau tahu?
bila dipotong dia akan selalu tumbuh

by anto hprastyo
mei 2010
bali

Komentar :

ada 1
dr. Cinta Dinda Natasya said...
pada hari 

Dindingnya semakin indah penuh warna dan juga kata sarat makna.
saluuut..

Post a Comment

Sahabat terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, semoga bisa memperkuat tali persahabatan online/offline kita. Blog ini Adalah Waqaf onlineku untuk semua, mohon jikalau ada yang tidak benar diluruskan, bagiku menjadi blogger adalah panggilan jiwa untuk membuka ruang bagi saujana. Hidup untuk memberi; Berilmu Amaliyah, Beramal Ilahiyah, Memberi Merupakan Puncak Kebahagiaan. Semoga manfaat. Salam

 
Cheap Web Hosting